Wisata Kampung Inggris, Pare (English Village of Story 1)

Cerita diawali ketika saya selesai wisuda S1 Farmasi dan resmi bergelar S.Farm. Nah, untuk lanjut ke jenjang berikutnya yaitu profesi Apoteker (Apt) atau S2 (M.Farm/Msi) nanti. Saya butuh sertifikat TOEFL dengan skor minimal 400. Masalahnya, selama ini saya tidak pernah skoring dan kemampuan TOEFL saya sampai dimana saya juga tidak tahu.

Kebetulan itu pas saya wisuda bulan Oktober dan pendaftaran Apoteker baru dibuka nanti di bulan Desember, artinya bulan November saya free alias pengangguran. Di situ saya penasaran dengan yang namanya Kampung Inggris yang ada di Pare, Kediri.

Well, untuk meredakan rasa penasaran itu. Langsung saya cari tahu soal Kampung Inggris itu lewat internet. Hubungi mbah google, cari tahu keberadaanya, terus kepoin web-web nya. Pada akhirnya saya putuskan mendaftaran secara on line, lewat webnya Eureka Tour. Pertama pilih lembaganya apa? Terus programnya apa? Kosnya apa? Dari Stasiun Kediri ke Pare nya naik apa?

Jadi, di Kampung Inggris itu ada dua periode, yaitu periode yang dimulai setiap tanggal 10 awal bulan dan periode yang dimulai setiap tanggal 25 di akhir bulan. Biasanya pendaftaran dibuka satu minggu sebelum periode di kedua tanggal itu dimulai. Kalau bisa pesannya cepet-cepat biar bisa milih lembaga pilihan dan tidak kehabisan. Dijuluki kampung inggris karena memang di kampung ini hampir di setiap rumah membuka lebaga kursus bahasa inggris, tapi tetap diantara lembaga-lembaga itu ada lembaga unggulan.

Siapa cepat dia dapat, mau masuk lembaga unggulan daftar harus cepat, kalau lambat-lambat nanti kehabisan, dapat sisa-sisa. Tapi kalaupun akhirnya dapat sisa tak perlu berkecil hati, kualitasnya enggak beda-beda jauh, Cuma biasanya yang punya nama lebih punya pengalaman. Begitu saja.

Sebenarnya tujuan utama saya ke Pare adalah wisata tapi wisata sambil belajar TOEFL. Di sini saya akan mengasah kemampuan diri saya untuk mengerjakan soal-soal TOEFL, tujuannya ya untuk menaikkan skor. Soalnya kalau masuk Apoteker itu skor TOEFL minilam 400 dan kalau mau lanjut S2 skor TOEFL minimal 500. Skor TOEFL saya enggak tau berapa, makannya ke Pare biar tau kemampuan diri sampai di mana.

Di Pare, saya ambil Program TOEFL ITP, lembaganya saya ambil di El Fast, camp ambil di Talent dan Travel dari Stasiun Kediri ke Pare juga pakai Eureka Tour. Sementara dari Bandung ke Kediri saya naik Kereta Kahuripan, murah cuma 90 ribu. Sampai di Stasiun travel pesanan sudah menunggu, jemputan pakai mobil ini cuma bertarif 70 rb, hemat gak pakai ribet. Sampai di Pare langsung menukarkan kwitansi on line denga kwitansi asli.

Ini kelebihannya mendaftar secara on line. Keperluan program les nya apa? lembaganya apa? dan kosnya apa? Semuanya diurus pihak travel, dan kita hanya membayar jasa sebesar 80 ribu. Jadi setelah mendaftar on line akan didapat kwitansi on line. Nah sampai di Kidiri, sama travel langsung di antar ke kantor Travelnya untuk menukarkan kwitansi online tadi dengan kwitansi asli. Setelah itu sama travelnya baru diantar ke kost.

Jadi waktu itu saya ambil les TOEFL 250 ribu, kost english area 250 rb, travel 70 ribu, dan jasa untuk Eurika Tour 80 ribu. Total sendiri, berapa! 😀 Cuma waktu itu, pas saya sampai Pare. Ternyata Talent Camp untuk english area sudah penuh, dan saya dialihkan ke Excellent Camp. Lebih mahal sedikit, 300 ribu. Jadi nombok 50 ribu. Tapi enggak apa-apa deh, Penting udah di Kampung Inggris dan tinggal ncari alamat lembaganya untuk menukar kwitansi di kantor lembaganya yaitu El Fast, istilahnya cek in lah.  Oh yah, itu harga untuk periode November 2015. Beda tahun harga bisa berubah.

Satu hal yang membuat saya sedikit kelimpungan. Tidak seperti di Bandung yang sejuk dan dingin, di sini cuacanya lebih panas, jadi gerah sepanjang hari tidak bisa dielakkan. Perbandingannya, kalau di Bandung nih sehari mandi sekali masih bisa, tapi kalau di Pare jangan coba-coba. Sehari mandi tiga kali aja malamnya masih bisa keringetan. Apalagi kalau cuaca mendung. Fiuhh..

Temen saya yang awalnya putih bersih, karena kebanyakan keluyuran dan panas-panasan jadi dekil seperti lutung, ada. Tapi yang di ruangan aja, belajar di kos, di kelas, apa di warung-warung lesehan ya tetap bersih. Biar enggak jadi dekil-dekil amat karena suka jalan, kalau perempuan kebanyakan suka pakai topi, jeket lengan panjang, stoking, sama masker.

Sampai di camp, saya diperkenalkan dengan aturan-aturan camp. Seperti english areanya harus dipakai, harus ikut program study tiap jam setengah lima shubuh dan tiap jam tujuh malam. Kalau sampai melanggar, tidak berbahasa inggris dan tidak ikut program, dikenakan punishment atau hukuman denda seribu rupiah. Bersyukur sekali, selama ngecamp, saya satu-satunya penghuni camp yang bebas punishment. Alhamdulillah yah. Rahasianya, apapun program belajarnya, ikuti saja. Soal bahasa inggris yang masih belepotan pokonya berbahasa inggris aja biarpun sedikit-sedikit diselipin bahasa indonesia, karena pebendaharaan kata yang masih kurang dan grammar yang juga masih lemah. Baiklah, cukup sampai di sini dulu. Kalau, mau tahu kelanjutan ceritanya, tunggu bagian keduanya ya. Masih di cerita yang sama. Okesip? 😀

(Ali Ridwan, 12/12/15)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *