Modest Living in Kampung Inggris

IMG_9262

Berikut adalah catatan Mega, Guide Putri yang mendampingi Student Program Kampung Inggris 9 (22 Juni-2 Juli 2015)

==============================================================

Oke. EUREKA mengusung tema modest living yang menjadi main character selain dari program yang dijalankan oleh DEC. Bisa kubayangkan bagaimana berbelas-belas anak tidur dalam satu ruangan yang sama, tanpa lemari, tanpa televisi, kamar mandi kecil yang terbatas, makanan rumahan yang sederhana dan tak ketinggalan. Hal inilah yang membuat EUREKA berbeda dengan penyedia jasa lain, yaitu bagaimana mereka ingin menanamkan nilai-nilai kehidupan (kesederhanaan) kepada setiap pesertanya agar menjadi pribadi yang lebih peka dan peduli terhadap orang-orang disekitarnya. Kurasa ini cukup representatif dengan apa yang dikatakan owner EUREKA (most likely).

EUREKA bekerja sama dengan Dynamic English Course (DEC) yang berlokasi di jalan flamboyan nomor 9. Jalan ini tidak seramai jalan lain seperti jalan anyelir, dahlia atau brawijaya yang dipenuhi tempat kursus di pare kampung inggris. Didirikan dan dikelola oleh Bapak Fahrudin Nur..(Sapa gitu), DEC memiliki guru-guru muda yang mayoritas bukan berasal dari pare sendiri. DEC membuka program-program tertentu per tangga 10 dan 22 setiap bulannya, tak terkecuali program holiday– yang dalam kalender EUREKA masuk pada angkatan ke 9. Program Holiday ini biasa disebut Student Program (SP) yang memang khusus diperuntukkan bagi siswa usia sekolah yang menghabiskan 10 hari waktu liburan mereka di pare kampung inggris.

Bertemu dengan orang baru adalah hal yang menyenangkan. Menemui kepribadian baru, latar belakang baru, belajar kebiasaan dan kebudaan baru yang nantinya akan menambah khazanah wawasan kehidupan sehingga berguna bagi diri (woss..ssoh..ssoh). Tiba di camp putri yang berjarak 25 meter dari kantor DEC, ternyata saya bukanlah orang pertama yang menginjakkan kaki di camp (bukan karena terlambat lo ya). Beberapa dari siswa SP 9 Solo berangkat terlebih dahulu dengan kendaraan pribadi, beberapa yang lain tiba lebih dahulu karena bis dari Jakarta yang mereka tumpangi tiba 3 jam lebih cepat daripada biasanya. Sisanya tiba pada siang hingga sore harinya dan fix- 32 siswa SP 9 yang datang hingga sore hari itu.

IMG_9401

32 peserta putri ini berasal dari belahan Indonesia mulai dari Jakarta, Bandung, Bogor, Karawang, Solo, Pati, Yogyakarta, Semarang, Gresik, Malang, Pontianak bahkan Bengkulu. Berasal dari daerah yang berbeda, budaya yang berbeda, bahasa yang berbeda, usia yang berbeda- dan disatukan oleh satu tujuan yang sama yaitu belajar di pare kampung inggris.

Dibantu oleh dua guru pendamping dari DEC yang super sabar, sebut saja Miss Izza dan Miss Mida. Kami kompak menjaga dan mengawasi titipan Allah SWT yang berjumlah 32 orang ini. Selalu sulit di awal, maksudnya awal adalah awal hari (hahaha). Bertepatan dengan bulan ramadhan kegiatan menjadi lebih padat dan berat, siswa SP 9 harus memulai kegiatan mulai pukul 03.00 WIB untuk menunaikan sholat malam terlebih dahulu dan langsung beranjak ke DEC untuk sahur dengan makanan yang telah disediakan.

Jelas, pembaca yang budiman bisa memperkirakan bagaimana reaksi siswa SP 9 saat melihat menu sahur di DEC. kecewa? tidak juga, sedih? mungkin. Yang jelas mereka belum terbiasa dengan menu makanan sederhana semacam nasi goreng (padang), nasi sayur lodeh tahu tempe, nasi sayur nangka (tewel) telur dkk. Pada hari-hari selanjutnya, kebanyakan dari mereka berinisiatif membeli makanan sendiri namun lama kelamaan sifat boros membuat uang mereka menipis dan membuat mereka terbiasa dengan makanan sederhana itu. Ya, semuanya hanya masalah waktu.

IMG_9374

Kegiatan selanjutnya adalah sholat subuh berjama’ah dan tadarus hingga pukul 05.00 WIB di dalam camp. Sebisa mungkin mereka segera berangkat untuk melakukan kegiatan selanjutnya yaitu Morning Conversation (MC). Kegiatan ini berisi kegiatan fisikal seperti olahraga ringan yang diselipi percakapan sederhana oleh guru-guru di DEC. Pada hari-hari yang berjalan selanjutnya, banyak siswa SP 9 yang tidak konsisten dengan jadwal- terutama MC. Entah bagaimana harus saya akui, godaan setan di pagi hari selalu berhasi membuat siswa SP 9 kembali ke tempat tidur mereka daripada mengikuti program MC, meskipun tahu hukuman apa yang menanti mereka jika melewatkannya.

Tepat pukul 07.00 WIB mereka harus terus melanjutkan aktifitas mereka yang paling utama yaitu Session 1 . Terdapat lima session yang dilakukan dalam sehari penuh, dimulai sejak pukul 07.00 WIB hingga 17.00 WIB. Jadwal ini hanya bertahan dua hari saja, dan diganti dengan jadwal baru yang membiarkan waktu siang menjadi lebih senggang dan memindahkannya ke jam malam setelah sholat traweh hingga pukul 21.30 WIB. Saya rasa hal ini bertujuan agar siswa SP 9 tidak keluar berkeliaran ke tempat lain hingga larut. Sekali lagi saya dihadapkan pada sebuah dilema, ketika para siswa berharap bisa keluar dari rutinitas belajar, berkumpul, berkenalan dan bersenang dengan teman-teman mereka- eh malah jam belajarnya di ganti malam. Yaa..tau sendiri kan kalau kumpul di siang hari itu panas, belum lagi pada hari-hari puasa sedemikian rupa menjadikan makanan dan minuman yang wajib musti hadir malah absen dalam setiap perkumpulan. Alhasil, siswa SP 9 bisa keluar sekitar setengah jam saja setelah session terakhir.

Adapun kegiatan lain yang teratur dilakukan adalah mengumpulakan handphone sebelum session 1 dimulai, adapun hukuman yang diberikan berbeda sesuai pelanggaran yang dilakukan. Mayoritas peserta harus menjalankan hukuman hafalan vocab, dan akan dilipat gandakan jika terlambat menyetor. Adapun beberapa dari mereka yang terlambat masuk camp harus membuat kalimat sesuai paling tidak 5 tenses berbeda lengkap dengan kalimat positive, introgative dan question-nya. Entah bagaiamana, siswa SP 9 memiliki konsistensi yang tinggi dalam menjalani hukuman (hahaha) atau bisa dibilang mereka sangat bersemangat saat mendapat hukuman. Tidak ada raut penyesalan dan kesedihan, bisa dibilang senang malah. Siswa SP 9 menjalani hukuman-hukuman mereka secara berjama’ah dan saling membantu teman lain untuk menghafal.

IMG_9299

‘Gesekan’ antar teman adalah barang yang tak bisa terhindari (terutama perempuan). Itulah mengapa setiap dua-tiga hari sekali diadakan curhat session. Kegiatan ini bertujuan untuk saling berbagi (share) cerita dan pengalaman, berkeluh kesah dan mencari jawaban solutif untuk setiap permasalahan. Bentuk camp yang terbagi menjadi dua bagian membuat siswa SP 9 entah bagaimana terpecah menjadi beberapa bagian, meskipun beberapa dari mereka berada dikelas yang sama. Mereka cenderung dengan yang dirasa cocok, maksudnya, yang tidak jauh berbeda dalam banyak hal dengan mereka.

Namun pada akhirnya saya melihat titik terang. Justru gesekan inilah yang membuat siswa SP 9 semakin seru (loh?). gesekan semacam itu sering terjadi karena ketidak bisaan mereka menerima perbedaan, kekurang pedulian mereka terhadap orang yang baru saja dikenal, atau memang dasar kebiasaan mereka yang suka menegaskan ‘perbedaan’ dengan yang lain. Dengan sedikit keterbukaan dan toleransi beberapa dari mereka mulai mengerti dan lebih peka pada orang lain disekitarnya. Memang ‘sedikit’ yang Saya maksud tidak akan sepenuhnya terwujud dalam waktu 10 hari saja, namun paling tidak- at least siswa SP 9 akan mengingat apa yang pernah terjadi hari ini adalah sebagian kecil dari apa yang akan terjadi di hari esok.

Jadi, lebih dari apapun Saya percaya bahwa pare kampung inggris bukan hanya tentang kursus bahasa inggris atau hukuman-hukuman saja. Utamanya siswa SP 9 yang Saya sayangi (ciyeh) berasal dari daerah, bahasa, kebiasaan dan usia yang berbeda tidak berarti bahwa 10 hari yang kita lalui selalu sulit. Ingatlah bahwa meskpun Fellia, Azka, Ranie, Nada, Rafa, Ellyza dan Neyla sering pulang terlambat plus sering mencari acara sendiri. Atau mungkin Althea yang lebih sering berbicara bahasa indonesia daripada siapapun..oh, tentu saja Farah, Afifah, Husniya, Alya, Salwa, Marwa, Amira dan Zahwa yang membuat Saya was-was melihat cara kalian bersepeda..dan Feby, Diva, Shafira, Mutiara yang selalu berhasil membuat Saya berbicara bahasa Jawa. Nia dan Lutfia, duo rajin yang selalu dengan sukarela menjalani hukuman tanpa diminta. Salma yang selalu ceriwis, Vina yang mudah bingung di tempat baru. Dan semua dari kalian Nabila dan Farrel yang musti ketinggalan momen seru di SLG dan Golden, Dita, Andya, Tiara, Monika, Lidya- Kalian adalah yang terbaik, guys…

2 thoughts on “Modest Living in Kampung Inggris

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *