LPDP Love Story :’)

Berhubung banyak yang nanya apa itu Beasiswa LPDP dan gimana caranya buat dapetin Beasiswa LPDP, saya coba jelasin satu- satu berdasarkan pengalaman saya kemarin ya.

Oke, firstly, saya mau kasitau informasi mengenai apa itu Beasiswa LPDP. Beasiswa LPDP merupakan beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada warga negaranya untuk menyelesaikan studi magister dan/atau doktor dalam bidang studi yang menjadi prioritas LPDP di universitas dalam atau luar negeri yang memiliki reputasi tinggi. Pemberian beasiswa ini bertujuan untuk mendukung ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan berkemampuan yang mumpuni sebagai pemimpin masa depan Indonesia. Untuk informasi lebih jelas mengenai jenis beasiswa, persyaratan, dan tahapan seleksinya dapat mengunjungi laman resmi LPDP di www(dot)lpdp(dot)depkeu(dot)go(dot)id.

LPDP 2

Persiapan saya untuk mendaftar LPDP sebenarnya cukup lumayan lama sih dari bulan Agustus sampai November. Mulai dari penjajakan universitas yang mengharuskan saya setiap hari mengecek universitas tujuan di seluruh dunia demi mendapat jurusan/spesialisasi yang diinginkan. Hal ini penting buat saya biar gak ngerasa salah jurusan (lagi) hehehe. Saya sendiri sampe 5 kali gonta-ganti universitas dan jurusan yang menjadi minat. Tips dari saya dalam mencari universitas ini adalah :

  1. Cari tau apa yang menjadi minat kalian. Kalian pengen belajar dan mendalami bidang seperti apa. Contohnya, saya ingin mendalami bidang nutrisi dan kaitannya dengan proses medikasi. Oleh karena itu, saya mencari-cari di Google dengan berbagai kata kunci mulai dari “nutrititon”, “medical nutrition”, sampai akhirnya nemu di kata kunci “nutrition and health”.
  2. Setelah dapat semua list universitas yang memiliki bidang yang kalian minati, sempitkan tujuan dengan melakukan seleksi universitas sesuai dengan list LPDP dan requirements yang dibutuhkan. Contohnya, saya mengeliminasi Amerika Serikat karena mempersyaratkan GRE dalam admissionnya. Saya terlalu malas untuk mengikuti tes itu (baca: males keluar duit lagi bok! Hahaha). Lalu, saya juga mengeliminasi Jepang dan Jerman karena mempersyaratkan untuk mempelajari bahasa negara tersebut terlebih dahulu sebelum mengikuti perkuliahan. Intinya sih saya mengeliminasi banyak universitas karena kemalasan saya sendiri hahaha.. Jangan ditiru ya teman-teman! Huhuhu..
  3. Beberapa orang memang memiliki kecenderungan untuk tertarik memilih negara atau universitas tertentu karena berbagai alasan pribadi. Saran saya sih kalo memang di negara itu ada yang menjadi minat kalian dan kalian bisa mencari – cari alasan logis kenapa kalian memilih negara dan universitas, ya bakal aman-aman saja. Tapi kalo ternyata gak bisa? Ini yang jadi masalah karena pada saat nanti wawancara pastiditanyain kenapa kalian milih untuk kuliah di negara dan universitas tersebut.
  4. Akhirnya sih kenapa saya milih untuk memilih kuliah di Belanda dan Wageningen University karena pertama minat saya tentang nutrisi dan kesehatan serta rencana tesis saya mengenai hubungan nutrisi dengan aktivitas farmakologi dan proses medikasi tersedia di sana.

Setelah yakin dengan pilihan itu, saya tidak langsung daftar ke universitasnya karena saya sendiri masih belum punya sertifikat IELTS. Perlu dicatat bahwa beberapa universitas ada yang masih menerima paper-based TOEFL untuk persyaratan admission-nya, namun adapula yang mempersyaratkan IELTS atau TOEFL iBT sebagai persyaratannya. Yang bertanya apa bedanya, silakan googling ya! Hehe.. intinya di IELTS dan TOEFL iBT ada tes writing sama speakingnya. Setelah ikut IELTS pun saya masih gak bisa daftar univ-nya karena sakitnya-tuh-disini-reason (bahasa apa pulak ini?!) : subscore speaking kurang setengah. Padahal overall udah kelebihan satu. Yowes, kudu ambil lagi. Tapi saya gak langsung ambil tes lagi. Pengen ngarénghap heula dan fokus ke pendaftaran LPDP dulu. Yang penting sertifikat IELTS kemarin masih bisa dipake buat daftar LPDP.

Setelah melengkapi persyaratan administrasi seperti scan ijazah, transkrip, surat rekomendasi dosen, sertifikat bahasa, KTP, surat pernyataan, dan tiga essay, akhirnya saya mendaftar beasiswa LPDP seminggu sebelum deadline. Perlu dicatat: lakukan pendaftaran beasiswa maksimal tiga hari sebelum deadline untuk menghindari server busy yang bisa bikin kalian gak bisa upload dokumen administrasi maupun ngisi form pendaftarannya. Gak mau telat daftar satu detik aja kan? Soalnya telat sedetik aja, admisi kalian bakal disimpen untuk proses seleksi periode berikutnya. Nyelekit tau yang gitu téh..

19 November 2014

Ini tanggal pengumuman hasil seleksi administrasi beasiswa LPDP tahap X. Saya nungguin SMS LPDP dari pagi ternyata gak ada. Cek ke website masih belum ada juga. Baru sekitar jam 9 malam saya dapat SMS dari LPDP bahwa hasi seleksi administrasi sudah diumumkan di website. Namun apa yang terjadi? Server websitenya down. Gak bisa diakses sama sekali. Galau dong? Pisan! Nya udah we sayah mah tidur sajah daripadangagugulung website yang gak bisa diakses sama sekali.

20 November 2014

Jam 5 subuh saya cek website namun apa lagi yang terjadi?? Kuota internet saya HABIS. Grrrr.. Tukang pulsa manaaa coba yang udah buka jam 5 subuh? Cobaan oh cobaan. Bener-bener nguji kesabaran pisan dua hari ini téh.

Jam 7 saya dapet line dari temen (Thanks, Ajay!), saya alhamdulillah lolos seleksi administrasi! Yeay! Tapi nya angger wé kalo belom liat dengan mata kepala sendiri mah asa belom afdol. Bener teu? Hahaha. Akhirnya saya dapet invitation buat masuk grup LPDP yang ternyata disana juga udah ada yang upload hasil seleksi kemaren. Langsung ngibrit tah ke tukang pulsa buat top-up kuota internet. Dan ternyata memang saya LOLOS dan berhak ikut ke tahapan seleksi selanjutnya : Wawancara dan LGD (Leaderless Group Discussion).

9 Desember 2014

Hari ini saya kebagian wawancara dulu jam 11.55 di Magister Management UNPAD, tapi di hari pertama kami tetep harus dateng jam 7.30 untuk verifikasi dokumen asli. Perlu dicatat: Jangan sampai ketinggalan dokumen asli apapun. Maksudnya dokumen disini adalah SEMUA dokumen yang kalian scan dan upload pada saat daftar beasiswa LPDP, termasuk KTP dan unconditional LoA (Letter of Acceptance) bagi yang sudah punya. Satu dokumen asli saja gak ada, langsung DIDISKUALIFIKASI. Ini beneran kejadian loh kemarin pas batch saya.. Kasian kan? 🙁 

Pas giliran wawancara, nerveousnyaaaa gak ketulungan. Tapi langsung mencair begitu duduk di bangku interviewee dan salah satu interviewernya nanya, “Kayanya saya pernah lihat kamu! Kamu penyanyi, ya? Saya pernah nonton kamu manggung..” JENG JEEEEEEEENG!! Pertanyaan pembuka yang sangat menggairahkan bukan? Tsaaaah~ *lempar poni*

Ada 3 interviewer: 2 professor dan satu psikolog. Proses wawancara saya 50-50 antara English dan Bahasa Indonesia. Pertanyaan – pertanyaan yang saya ingat waktu itu adalah:

  • Perkenalan diri : siapa, dari mana, jurusan apa, mau lanjut kemana, dan ngambil apa.
  • Kenapa ambil S2 di Belanda dan Wageningen University.
  • Kegiatan apa yang dilakukan selama undergraduate.
  • Rencana studi dan topik tesisnya apa.
  • Abis kuliah mau jadi apa dan kontribusi untuk Indonesia apa.

Semua pertanyaan di atas diajukan dan dijawab dalam bahasa Inggris. Kemudian dilanjut dengan beberapa pertanyaan, seperti:

  • “Saya lihat IP kamu bagus, beasiswa dapet terus dari tingkat 1 sampai apoteker, kamu pernah stress gak sih? Pendidikan profesi bukannya menjenuhkan dan stress banget kan ya?” (I was like -..- mmmh.. YES INDEED MA’AM!). Apa yang bikin kamu stress dan apa yang kamu lakukan kalo lagi stress.
  • Pertanyaan terkait keluarga.
  • Kegiatan voluntary apa yang pernah dilakukan. Pernah ikut pengabdian masyarakat gak.
  • Pertanyaan-pertanyaan terkait Essay.
  • Linearitas ilmu S1 sama S2 gimana.
  • Apa yang menjadi keterbaruan yang bisa kamu berikan dan keuntungan ilmu yang akan kamu ambil tersebut bagi Indonesia jika kamu mendapat beasiswa ini.
  • Kata dosen kamu, idealisme kamu bagus. Gimana cara menjaga idealisme? (Thanks to Nadya Intan Kemala, Aryo Dimas Pamungkas, Mitra Lovelin Gultom, dan Hadiastri Kusumawardhani! Kita sempet diskusi tentang idealisme dulu beberapa menit sebelumnya!)

Yowes, wawancara saya berlangsung gak lebih dari 30 menitan. Alhamdulillah gak ada hambatan sama sekali dalam menjawab. Tips saya dalam wawancara:

  1. Relax! Take it eaaaasy! For there is nothing that you can’t do.. Karena yang tau kalian dan apa isi essay kalian seutuhnya adalah kalian sendiri. Percaya aja sama diri kalian sendiri.
  2. Jujur dalam menjawab. Jangan mengada-ngada apalagi berbohong. Inget, kalian diwawancarai sama psikolog senior juga loh.
  3. Tetep sopan dan jangan mengeluarkan ekspresi atau kata-kata yang terkesan meremehkan interviewer dan/atau menyombongkan diri kalian. Percaya diri sama sombong bedanya tipis kan, ya? (NB: saya gak beneran kibas poni yaaa pas awal-awal wawancara.. Rambut saya mah gejed, gak bisa dikibas-kibas hahaha)
  4. Keep smiling! Kalo bisa sih ya, pas ada pertanyaan yang sangat sensitif, tahan emosi kalian. Boleh sih emosional, tapi jangan sampe kebawa dan larut dalam emosi. Tunjukkan kestabilan emosi kalian.

10 Desember 2014

Saya kebagian LGD jam 8.00 which means kloter satu. Saya satu kelompok dengan 9 orang lainnya, 4 orang calon Doktor dan 6 calon Master dengan background keilmuan yang beragam satu sama lainnya. Dalam tahap LGD ini, ada 2 psikolog yang akan menilai proses diskusi kami. Mereka akan stay “invisible” sampai waktu diskusi habis. Kami kebagian untuk bahas salah satu masalah terbesar di Indonesia : Ketahanan Pangan. Kami diberikan selembar full artikel tentang pengalihan makanan pokok. Kami diminta untuk membahas masalah apa lagi yang memengaruhi ketahanan pangan di Indonesia beserta solusinya. Kami diberikan waktu selama kurang lebih 40 menit untuk berdiskusi mengenai hal ini. Alhamdulillah proses LGD kami berjalan cukup lancar dan menarik. Tidak ada yang mendominasi. Semua kebagian berbicara dan berpendapat.

Tips untuk Leaderless Group Discussion ini sih simple : berikan opini yang fresh, jangan mengulang pendapat orang lain, jangan memotong pembicaraan orang lain, berikan kesempatan orang berbicara, jangan mendominasi diskusi, encourage temen-temen yang pasif, dan berikan kesimpulan yang bulat.

Ah! Akhirnya semua tahapan udah kelar. I’ve done my best and just let God do the rest.

24 Desember 2014

Nah, ini nih hari-yang-paling-gak-enak-untuk-kentut-sekalipun. Beneran gak karuan rasanya. Mana si ibu tiap jam nanyain, “Gimana? Pengumumannya udah ada? Meni lila ih! Burukeun kituh!”. Dari bangun tidur kerjaannya cuma refresh website LPDP sama grup FB LPDP, tapi masiiiiih aja belum ada. Nah buat yang sekarang, karena pengalaman memprihatinkan sebelumnya, preparation-nya lebih wow. Seminggu sebelumnya udah isi paket internet dong yang 24 GB! LEBAY TEU URANG? Hahahaha.. Demi kelancaran LPDP, apapun akan kulakukan walau berlebihan! :p.

Jam 17.00 (ini beneran jam 17.00 di hape sayah mah #gakpenting) ada email masuk. Pas liat: Sender: LPDP, Subject : Pengumuman Hasil Wawancara Bulan Desember.Euleuuuh éta mah ngadérégdégna.. Buka new tab di laptop aja susah. Pas bukaattachment sempet salah donlot pula. Begitu donlot attachment yang bener, speed download malah sempet stagnan di 0.00 kb/s!! Nah kan, aya-aya waé kejadian aneh kalo lagi geumpeur téh! Begitu beres donlot dan buka file pdf itu… JENG JENG! PAGE PENGUMUMANNYA MALAH LANDSCAPE!! Saking tegangnya, gak kepikiran coba buatrotate view ke counterclockwise. Jadinya baca pengumumannya pake kepala-miring-90-derajat-ke-kanan, tapi WORTH IT! Nama saya ada disitu! ALHAMDULILLAH, ya Rabb!! Saking senengnya, turun dari kamar pake jurus sekali-loncat-tiga-anak-tangga-terlampaui buat ngasih tau ortu. ALHAMDULILLAAAAAH!! :’) Nikmat Tuhan yang mana lagi coba yang bisa saya dustakan?

Oke. Sepertinya segitu pengalaman yang bisa saya bagikan! Kalo ada pertanyaan, insya allah saya akan jawab sesuai dengan pemahaman saya. Oya, tambahan! Salah satu kelebihan beasiswa LPDP ini adalah : TIDAK ADA KUOTA. Jadi, kalian gak bersaing satu sama lain. Bersaing dengan diri sendiri aja gimana caranya bisa memenuhi kriteria awardee LPDP yang hanya menjadi rahasia pihak LPDP dan interviewer 🙂

Pada akhirnya, saya makin percaya kalo mimpi bakal tetep jadi mimpi kalo gak dikejer! Kalo kalian berusaha sekeras-kerasnya dan gak menyerah di tengah jalan saat rintangan menghadang, percayalah TUHAN pasti memperhitungkan setiap langkah yang kita ambil, kepedihan yang kita rasakan, airmata yang kita teteskan, dan doa yang kita panjatkan. So, masih takut buat bermimpi?

Regards,

Ginanjar Syuhada

LPDP-Scholarship Awardee Batch X

Disalin dari https://www.facebook.com/notes/10152881622408686/

5 thoughts on “LPDP Love Story :’)

  1. Mas mau tanya, pas angkatan mas yg lolos itu, adakah yg ngambil bahasa asing? Bahasa Inggris, Jerman, Perancis, dll?
    Backround S1 saya pendidikan bahasa Jerman, I.allah mw apply S2 di Jerman via LPDP.

    Kl ada kenalan, kalau org ybs berkenan, blh diinfokan ya mas. Thanks.

  2. Asalamualaikum
    Seru kisahnya, dan berakhir bahagia yah… saya baru akan mendaftarkan diri tetapi ada yang belum pas dipersyaratan, salah satunya english tes saya tidak mencapai 400 jadi galau mau daftarkan diri dan jika memilih dalam negeri apakah wawancaranya ada dengan bahasa inggris juga?
    Sekian pertanyaannya, wassalam

  3. Pengalaman yang luar biasa sekali kak, saya jadi ikut semangat buat berjuang mendapatkan beasiswa lpdp ini. Tapi masih bingung milih jurusan nih kak, kalo berdasarkan pengalaman, jurusan apa sih kak yang banyak diminati dan memiliki prospek kerja yang bagus? Terima kasih.

  4. boleh sharing via email mas? saya mahasiswi gizi, impian besar saya bisa kuliah master of nutrition d luar negri, mohon bimbingannya mas..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *